FB: Mohammad Ryan Ns Twitter: @mryanns
Biar Tangan Yang Bercerita

Wednesday, March 1, 2017

Telenovela





Aku terbangun karena suara alarm dari handphone yang ada tepat di samping telingaku. Kumatikan alarm lalu kupicingkan mataku untuk memastikan jam berapa saat ini.
Sudah jam setengah enam rupanya, lalu kutulis pesan kepada pacarku,

“met pagi unyu unyu :*”

Setelah mengirim pesan itu, aku langsung beranjak dari kasurku menuju ke kamar mandi, karena aku hari ini akan pergi mengikuti seminar di gedung MPR dengan teman-teman ku.

Setelah mandi dan berpakaian rapi, aku bersiap pergi menuju ke kampus untuk berkumpul terlebih dahulu agar berangkat bersama nantinya. Kulihat hape dan masih belum ada balasan dari pacarku, mungkin dia masih kecapaian karena kemarin habis pergi denganku.

Wajar pikirku, karena memang kemarin kami habis pergi menonton film Habibie & Ainun yang sedang booming saat itu. Bukan masalah menontonnya yang membuatnya kecapaian, tapi menurutku karena masalah tempatnya.

Kami menonton di daerah BSD, yang masih di area dekat rumahku sedangkan rumahnya itu di daerah Bekasi, yang bukan hanya tempatnya yang berbeda namun juga planetnya sudah berbeda dengan kami orang bumi.

Saat pulangnya pun dia tak mau di antar karena katanya akan pulang dengan kakaknya yang lagi ada di daerah sekitar BSD juga, aku pun mengiyakan akhirnya.

Dia sampai rumah sekitar jam 8 malam, lalu setelah itu kita telponan hingga tengah malam dan itu pun terhenti karena entah aku atau dia yang tertidur.

Sesampainya di kampus, sudah hampir datang semuanya total ada 5 motor dan tiap motor semuanya berboncengan. Aku berboncengan dengan Andi, namun dia masih belum datang dengan 2 orang anak lainnya.

Aku lihat hapeku, masih belum ada balasan dari pacarku. Tidak lama Andi dan dua temanku datang. Lalu kita pun bersiap untuk berangkat, aku meminta andi untuk membawa motor karena aku juga masih merasa sedikit lelah akibat kencan kemarin.

Kami mulai jalan beriringan meninggalkan kampus. Kuambil hapeku, lalu kupasang headset dan kusetel lagu dari playlist di hapeku sambil ku kirim pesan ke pacarku,

“Aku udah jalan nih ke seminar, kamu kalo udah bangun langsung kabarin aku ya unch :*”

Di daerah Pondok Indah kami berhenti di sebuah tambal ban, karena salah satu motor ada yang bocor bannya. Lalu kurasakan hapeku bergetar, kulihat ada sms masuk dari pacarku,

“Fan, aku mau ngomong penting ama kamu” perasaanku tiba-tiba ngga enak, saat baca sms dari dia yang terlihat memang serius sepertinya dan juga memanggil namaku langsung bukan dengan sebutan sayang seperti biasanya.

“serius amat unch kayanya, mau ngomong apa emang sih?” balasku mencoba terlihat biasa saja.
“Kita udahan aja ya fan, aku ga dibolehin pacaran sama mama. Dia mau nyuruh aku fokus kuliah dulu” membaca balasannya membuat perutku rasanya seperti di hantam dengan es balok.

“apaan sih sah, ngga seru ah bercandanya” aku mencoba tak menanggapi dengan serius isi pesannya yang tadi.

“Ini serius fan, nanti aku jelasin lagi kalo kamu udah selesai seminarnya. Aku juga mau nganterin mama belanja dulu.” Membaca balasan yang ini rasanya sekarang dadaku yang di hantam es balok itu.

“jelasin sekarang aja deh sah, biar aku ngga kepikiran” balasku coba sesantai mungkin walaupun nyatanya tidak sesantai itu.

Saat ini perasaanku bercampur aduk antara sedih, marah, gelisah, dan semua perasaan negative seakan bercampur di dalam diriku ini.

Aku tahu memang Sasah, pacarku ini belum memberi tahukan bahwa dia sudah berpacaran denganku. Namun setahuku dari ceritanya, mamanya itu hanya tahunya bahwa sasah ini masih berpacaran dengan mantannya, bukan melarangnya untuk berpacaran. Jelas bukan alasan yang masuk akal seandainya dia bilang tidak diperbolehkan berpacaran dengan mamanya itu, dan jelas itu membuat aku kepikiran.

Loh seandainya dengan mantannya dulu boleh, kenapa denganku justru tidak? Tak masuk akal jelas bagiku. Berbagai pikiran negatif mulai berputar di kepalaku tapi kutepis semua. Aku hanya akan menerima penjelasan yang di utarakan oleh sasah nanti, begitu pikirku.

Motor temanku sudah selesai di tambal, dan kami bersiap untuk melanjutkan perjalanan lagi. Sasah belum membalas juga pesan terakhir yang ku kirim kepadanya.

Aku meminta andi untuk gantian membawa motor, karena pikirku dengan begitu bisa mengalihkan rasa gelisahku ini. kupacu motorku dan mulai berjalan menuju tujuan kami.

Setengah jam kemudian, kami sudah sampai di gedung MPR. Aku langsung turun dan melihat hape, tapi belum ada balasan juga dari sasah. Aku coba hubungi tetapi hapenya justru tidak aktif. Ah sial pikirku, kenapa harus ada kejadian seperti ini sih.

Aku sendiri masih tak habis pikir dan masih butuh penjelasan atas semuanya. Ini jelas di luar logika berpikirku, mungkin di luar logika orang cerdas sekalipun. Jelas baru kemarin, bahkan masih jelas di ingatanku saat kepalanya bersandar di bahuku saat kita menonton film dan semua masih terasa indah seakan tidak akan ada kejadian apapun yang bisa menyebabkan rusaknya hubungan ini. Jelas baru semalam kami bertukar cerita dan harapan lewat telepon hingga tertidur tanpa adanya pertengkaran yang bisa menyebabkan putusnya hubungan ini.

Tapi sekarang apa? Ah aku sendiri masih tak habis pikir dengan apa yang terjadi saat ini. Makin kupikirkan justru makin memuncak rasanya emosiku ini, karena aku yakin alasannya tak sesederhana itu hingga harus disudahi hubungan ini.

Seminar sudah di mulai, dan sasah pun masih belum membalas pesanku. Ah terserah lah pikirku, makin pusing rasanya jika makin kupikirkan. Kusimpan hapeku dan mulai fokus pada seminar setelah ku kirim pesan sekali lagi kepadanya,

“setidaknya katakan, meski tak lewat ucapan. Agar yang di dekatmu tahu apa yang kau rasakan. Jangan hanya diam, sebab diam adalah cara terbaik untuk menyakiti seseorang.”


Bersambung…