Biar Tangan Yang Bercerita

Friday, October 27, 2017

It's so painfully, baby !!!




Di sebuah gubuk tinggal lah seorang pemuda bernama Buts. Gubuk tersebut merupakan tempat berkumpulnya anak-anak muda di kampung itu. Mulai dari berkumpul untuk sekedar bercanda hingga menangis bersama. Buts sendiri merupakan seorang perantauan dari daerah.


Kerasnya kehidupan membuat dia harus bisa beradaptasi dengan situasi apapun dan di manapun dia berada. Buts merupakan seorang anak yang rajin. Dia membersihkan gubuk setiap hari, di cucinya gelas yang kotor bekas anak-anak yang minum segala jenis minuman dari kopi hingga teh, lalu mengangkut galon dan mengisi air di kulkas.Hal itu rutin Buts lakukan setiap hari, dia merasa memilki tanggung jawab karena tinggal di gubuk tersebut sebagai anak perantauan.

Hingga suatu hari, Buts tidak melakukan kegiatan rutinnya itu seperti biasa karena dia sedang kurang enak badan. Tidak adanya kegiatan yang Buts lakukan seperti biasa membuat anak-anak mengucapkan berbagai macam perkataan yang satire hingga menghina si Buts dengan melabeli dia seorang pemalas. Buts tentu merasa sakit hati di perlakukan seperti itu. Hatinya menjadi patah, perasaannya menjadi gundah dan dia dikacaukan dengan segala rasa yang membuatnya jatuh dan kalah.

Buts tak habis pikir akan apa yang mereka lakukan terhadapnya, kegiatan sehari-hari yang biasa dia lakukan saja hanya sedikit sekali dia mendapat pujian bahkan dia sendiri hampir lupa kapan pujian itu sedangkan ini hanya karena sekali saja dia tidak melakukan suatu kebiasaan yang biasa dia lakukan, tiba-tiba langsung saja berbagai hinaan datang menghampirinya. Karena hal tersebut akhirnya Buts enggan melakukan hal yang biasa dia lakukan, toh baginya sama saja hal itu tak pernah mereka anggap.

Di tempat yang sama ada lagi sepasang pemuda bernama Pele dan Dadan. Pele saat itu bersama Dadan sahabatnya sedang membuat meja belajar. Namun, saat mereka berdua mengerjakan pembuatan meja tersebut tiba-tiba salah satu kaki meja tersebut patah.

Dadan menganggap hal itu merupakan salah Pele karena memotong kaki mejanya terlalu tipis sehingga tidak mampu menahan beban dengan baik, Pele pun sama menganggap hal itu merupakan salah Dadan karena mencari kayunya bukan dari pohon yang batangnya kuat sehingga mudah patah. Akhirnya mereka berdua pun saling menyalahkan demi mempertahankan kebenarannya masing-masing.

Mari kita ambil ibrah dari dua cerita di atas. Kita ke cerita pertama, ini tentang “Murah Menghina Tapi Mahal Memuji”. Dari cerita tersebut kita bisa lihat bagaimana anak-anak muda itu dengan mudahnya menghina  Buts hanya karena satu hal yang baru di lakukan  Buts dan mereka anggap salah dan tidak sesuai dengan yang mereka harapkan, namun dalam keadaan sebaliknya justru sedikit sekali yang memuji  Buts. Hal ini tidak asing di sekitar kita, karena kita sendiri pasti pernah berada di posisi  Buts ataupun orang yang menghina Buts.

Di cerita yang kedua, ini tentang “Tidak Bisa Benar Tanpa Menyalahkan”. Dalam cerita ini kita bisa lihat bagaimana Pele dan Dadan saling menyalahkan demi kebenaran menurut versi mereka sendiri. Hal seperti itu juga tidak asing lagi di kehidupan kita, banyak dari kita yang merasa benar dengan menyalahkan dan belum bisa benar di atas kebenarannya sendiri tanpa harus menyalahkan orang lain.

Dari itu semua mungkin kita tidak habis pikir bahwa nyata sekali hal-hal seperti itu ada di sekitar kita. Hingga kadang aku sendiri pun masih tak habis pikir, apa yang sudah kuperbuat hingga Tuhan itu baik banget ngasih kamu di hidupku.

Fastabiqul Khairat,

Wassalam.