Biar Tangan Yang Bercerita

Tuesday, February 27, 2018

Bu Dendy Lovers




Tulisan kali ini tercipta akibat banyaknya bocah kecil yang maen mobil lejen kalo siang dan tiba-tiba AFK dengan alasan diomelin emaknya gara-gara belom makan sama ganti baju sekolah, astaga ini guru SD kerjaannya ngapain aja woooiii, jangan-jangan malah ikut mabar ini ama muridnya heuheuheuheu...


Tapi seperti biasa tulisan kali ini ngga ada kaitannya dengan keresahan yang gua alami tapi berdasarkan keresahan dari orang lain yang gua sendiri juga pernah alami...nah loh bingung kan lu bacanya apalagi gua yang nulis wkwkwkwk



Kita tahu bahwasanya segala sesuatu itu diciptakan secara berpasang-pasangan. Kanan dan kiri, atas dan bawah, luar dan dalam, pria dan wanita, kamu dan dia, aku dan kesendirian... yah...yah...yah...sedih huhuhu...


Kali ini tema yang mau gua tulis adalah tentang persahabatan. kenapa gua milih nulis dengan tema ini, karena akhir-akhir ini gua lagi suka ngecengin orang lagi. Engga tahu kenapa penyakit spesial ini bangkit lagi, gua sih ngga masalah asal jangan penyakit fisik yang muncul lagi karena rasanya wow amazing heuheuheu...

Atas dasar apa yang gua rasain di atas maka gua memutuskan untuk mendukung Ayu Putri Sundari di Indonesian Idol walaupun mukanya kocak pas ngga pake make up dan Ghea Indrawari karena pertanyaan gua udah dijawab sama Ghea (saranghae Ghea... muach... muaach...)

Mari kita sudahi tulisan melanturnya karena hidup itu harus ada sinkronisasi atas konsonan langit yang akan menjadi sebuah takdir cinta kita. Menjadikan hamparan bahwa saksi ini, detik ini, secara sinaran ultrafeng yang mulai dinaungi oleh green day akan menjadi cranberries cinta kita menjadi nyata. Aku akan menjadi pembuka tulisan ini untuk kamu, Enjel sayang. (Vicky Prasetyo, Pujangga Ngablu)

 

Pada dasarnya hidup itu akan indah rasanya jika terdapat banyak perbedaan yang menyatukan bukan menghancurkan. Candra Malik pernah bilang, bahwa perselisihan antar pasangan kekasih atau suami istri itu terjadi ternyata karena saling mencintai. Aneh bukan? Saling mencintai justru memancing pertengkaran, perselisihan. Mengapa? Karena saling mencintai itu berarti mencintai bertemu dengan mencintai. Dua kutub yang sama ketika bertemu akan saling menolak tidak akan pernah lengket. Mulai diskusikan, mulai musyawarahkan siapa yang mengambil peran mencintai, siapa yang mengambil peran dicintai. Bukan lagi saling mencintai tapi mencintai dan dicintai. Kutub yang berbeda itulah yang secara magnetis akan menyatukan keduanya.

Bahkan terkait perbedaan pun Quraish Shihab pernah berkata bahwa Tuhan itu mau kita berbeda. Alam raya berbeda, tumbuhan berbeda dan manusia berbeda. Lantas kenapa kita memaksakan persamaan dan menghilangkan perbedaan yang sudah merupakan sunatullah dari Tuhan.

Dalam sebuah hubungan pertemanan bahkan yang lebih intim lagi biasa kita sebut persahabatan pun tak bisa lepas dari yang namanya perbedaan. Dalam menyikapi perbedaan dalam pertemanan pun kita juga bisa melihat perbedaan dalam menghadapinya.

Ada yang secara terang-terangan memaksakan untuk seirama dalam perkataan, perbuatan, dan pendapat jika masuk dalam lingkaran pertemanannya. Ada yang mendukung perbedaan dalam lingkar pertemanannya agar tidak monoton dan lebih berwarna. Ada yang tidak peduli dengan perbedaan tersebut selama silaturahmi tetap terjalin. Bahkan ada yang di depan bersikap seolah tidak mempermasalahkan dan tidak terjadi apa-apa tapi di belakang membentuk lingkaran baru untuk mempergunjingkan, sakit bukan? Heuheuheu...

Dalam lingkup pertemanan gua sendiri pun ada banyak perbedaan mulai dari perbedaan daerah, perbedaan sifat, perbedaan sikap hingga perbedaan kelamin. Dalam berteman pun gua juga selalu pengen bahwa mereka harus selalu sejalan dengan apa yang gua mau, karena pada dasarnya manusia itu egois dan selalu semaunya sendiri karena selalu menganggap apa yang menurutnya adalah yang terbaik.

Tapi seiring berjalannya waktu akhirnya gua paham bahwa ngga semua hal bisa dipaksakan walaupun seandainya yang kita paksakan itu kita anggap baik buat dia. Karena apa yang nyaman di gua belum tentu nyaman di dia atau apa yang baik di gua belum tentu dia juga merasakan hal yang sama.

Misalkan kaya gua, orang yang sukanya bercanda bahkan tiap ada orang yang marah pun gua bercandain. Karena bagi gua, hidup terlalu singkat untuk dihabiskan dengan marah-marah dan emosi. Tapi bukan berarti gua ngga pernah marah, kadang gua suka marah kalo pas malem ngecas hape tapi pas pagi malah ngga keisi gara-gara lupa di colokin, gua marah kalo lagi mau boker di wc umum tapi bekas orang sebelumnya malah ngga disiram sampe bersih bahkan masih pada nempel-nempel di pinggirnya dan bahkan gua pun marah kalo pas seharusnya marah tapi gua malah ketawa doang sambil geleng-geleng, keren kan gua heuheuheuheu....

Gua pun punya temen dengan cara hidup yang beragam, ada yang hidungnya suka megar-megar kalo liat cewe cakep, ada yang matanya langsung autofokus tiap liat yang gede-gede, ada yang rambutnya kaya Zilong tapi dipanggil Dilan, ada yang kalo ketawa bunyinya ikkk...iikkk...iiikkk...iiiikkk, ada yang baperan sampe bahkan ada yang laperan.

Dalam lingkup pertemanan bahkan ada orang yang sulit untuk berbaur dengan suatu kelompok atau komunitas. Hal ini karena dia merasa bimbang, ketika dia menjadi diri sendiri takut nantinya akan termajinalkan karena tidak seragam tapi ketika ingin seragam dia merasa tidak nyaman karena itu bukan dirinya sendiri. Walaupun ngga sedikit juga yang bisa berbaur secara baik dengan menjadi dirinya sendiri atau menyesuaikan dimana dia berada atau bahasa biologinya kalo pas gua smp mah disebut “bunglon” dan tetap merasa nyaman.

Tapi bagi gua, nyaman itu adalah saat lu bisa jadi diri lu sendiri dimanapun berada dan ngga mempedulikan segala tanggapan orang lain selama saat lu jadi diri sendiri itu ngga merugikan mereka. Karena yang paling tahu dan mengerti apa yang terbaik untuk kita itu ya diri kita sendiri.

Karena itu saat temen-temen lu mulai menjauh dan menganggap lu merasa asing karena mulai ngga seragam maka lu ngga usah merasa bersalah, Un. Karena yang salah itu cara mereka dalam berteman, yang mana seharusnya perbedaan itu dijadikan sebuah pembelajaran untuk bagaimana kita tetap bisa berdampingan dengan keharmonisan bukan pertengkaran. Kalau mereka merasa saat lu menjadi diri sendiri malah nantinya akan menimbulkan keburukan harusnya memberikan solusi bukan malah menjadi polusi dari lingkar pertemanan kalian.

Yang lebih fatal lagi, saat lu mencoba menjadi diri sendiri mereka justru merajuk, membentak bukan mengajak. Pada bagian ini maka lingkar pertemanan kalian bukan di dasari karena cinta tapi suatu kepentingan semata. Makanya gua bilang lu ngga usah merasa lu ada yang di posisi yang salah, karena kalau mereka mendasari lingkar persahabatan itu dengan cinta maka saat lu salah maka mereka akan membenarkan bukannya meninggalkan apalagi mengacuhkan, Un.

Un? Siapa Un? Harusnya bertanya Un itu apa bukan siapa. Karena Un yang gua maksud disini adalah Ujian nasional. Ini sebagai bentuk apresiasi, semangat dan motivasi buat adek gua yang duduk di kelas 6 SD yang nanti mau ikut Ujian nasional. Ini gua lakuin karena dia harus rela mengorbankan waktunya biar ngga nonton ”Catatan Harian Aisha” pas lagi iklan demi belajar buat try out.

Tapi ada satu hal yang mau gua share, bahwa salah dan benar itu relatif dan tiap-tiap orang punya penafsirannya sendiri dan hanya Tuhan yang memiliki kebenaran absolut. Jadi tulisan di atas merupakan kebenaran dari versi gua sendiri dan mungkin hal itu ngga sama dengan kebenaran yang kalian rasakan. Dalam hal ini pun, gua ngga memaksa kalian untuk menerima salah dan benar versi gua tapi gua hanya ingin menyampaikan apa yang gua rasa benar selama ini hingga saat gua bikin tulisan ini.

Jadi apa yang gua tulis kali ini bukan buat menyindir seseorang atau sekelompok golongan tapi sebagai pengingat buat diri gua sendiri aja sih sebenernya. Karena yang paling pantas untuk dikritik dan diingatkan adalah diri kita sendiri.

Udah ah, leher gua rasanya langsung pegel tiap abis nulis yang kaya beginian. Gua cuma berharap dari tulisan gua ini bisa membawa Ayu jadi juara Indonesian Idol, kalo ngga Ayu ya Ghea lah heuheuheu...


Fastabiqul Khairat.
Wassalam.
Tertanda,


Kader Cukrik