FB: Mohammad Ryan Ns Twitter: @mryanns
Biar Tangan Yang Bercerita

Friday, March 17, 2017

Telenovela (Chapter 2)



Selesai seminar, kulihat hape dan masih belum ada balasan dari sasah. Aku coba menghubunginya lagi namun nomernya masih tidak aktif. Walau mencoba tidak peduli namun yang ada aku makin terpikirkan dengan masalah ini.

Aduh, sungguh rumit sekali masalah cinta ini bahkan nasi kotak yang kumakan saat ini pun menjadi terasa hambar hanya karena perkara ini.

Sorenya, aku sampai dirumah dan masih belum juga dapat balasan dari sasah. Badanku sudah terasa lengket, dan rasanya lelah sekali hari ini. Kurebahkan badanku ke kasur dan mataku menatap langit-langit kamarku. Entah kenapa lelah sekali rasanya hari ini. Aku menerawang lalu bergumam
“Melangkahlah…
 Hingga berdarah sepasang kakimu
 Tak peduli kemanapun pergimu
 Kau akan kembali pada punggungku”

Aku bangkit dan menuju kamar mandi karena sudah mulai tidak nyaman dengan badanku yang lengket ini. Mungkin dengan mandi bisa menyegarkan sedikit tubuh dan pikiran yang sedang kusam ini.

Air dingin saat mandi tadi ternyata dapat menyegarkan badan dan pikiranku saat ini. kulihat jam sudah menunjukan pukul 8 malam, lalu kuambil sajadah dan mulai bersimpuh di hadapan Sang Pemilik Semesta.

Entah kenapa, bagiku malam selalu mempunyai kelebihan tersendiri. Karena saat malam tiba aku memliki ruang untuk menciptakan ide-ide cemerlang yang melayang di langit-langit sebelum mimpi menerjang. Dan malam juga adalah waktu yang paling khusyuk untuk manusia mencari Tuhan.

Seperti malam ini, dimana aku sedang merapalkan segala keluh dan kesah tentang segala perihal yang kurangkum dengan kata-kata dalam bentuk doa. Bagiku, jika doa bukan sebuah permintaan, setidaknya itu adalah sebuah pengakuan atas kelemahan manusia di hadapan Tuhannya.

Selesai itu, kurapihkan sajadahku dan kurebahkan kembali ragaku ke peraduan. Perutku mulai berbunyi menandakan bahwa tubuhku butuh energi. Tapi entah kenapa tidak ada rasa lapar sama sekali yang menghampiri, jika kuingat lagi dari pagi hingga sekarang aku baru makan sekali dan itu saat seminar tadi.

Kupaksakan tubuh ringkih ini untuk berdiri, lantas bergegas mengganti pakaian lalu pergi keluar mencari makanan yang mungkin mampu membangkitkan rasa laparku.
Setelah berkeliling sebentar akhirnya kuputuskan untuk menjatuhkan pilihan pada nasi bebek yang ada di pinggir jalan. Aku lalu memesan dan duduk menunggu hingga tiba pesananku itu. Tak ada yang kulakukan, hanya duduk menunggu sambil menatap jauh lurus ke jalan raya. Ragaku memang ada disitu, tapi pikiranku entah sudah berlalu lalang pergi entah kemana.

Pikiranku masih berkutat dengan segala hal tentang apa yang harus aku lakukan dengan hubunganku ini. Seandainya dihadapkan pada pilihan, aku jelas tak akan pernah untuk memilih pergi meninggalkan hubungan ini. namun logika ku punya pilihan lain atas apa yang telah terjadi hingga saat ini, ia dengan jelas menyuruh pergi setelah semua pesakitan tanpa kepastian yang kuterima hingga saat ini.

Namun akhirnya, aku tetap memilih untuk tetap bertahan dalam hubungan ini, sebab kutakut jika aku memilih pergi itu akan menjadi petaka yang nantinya akan melahirkan aku yang hilang atau malah menjadi boomerang ! yang membuatku makin mendamba pulang.
Lamunanku buyar ketika sepasang pengamen yang datang dari pintu masuk tempat makan ini.
“selamat malam mbak dan masnya, ijinkan kami untuk menyanyikan sebuah lagu yang mampu menyampaikan isyarat rindu yang terpancar dari sang mata, namun sang bibir masih kokoh membendung segala resah. Inilah sebuah lagu dari kami semoga bisa menyampaikan isyarat dari mata itu” kedua pengamen tersebut mulai memainkan gitarnya lalu menyanyikan sebuah lagu dari Aerosmith – I don’t wanna miss a thing.

Aerosmith – I Don’t Wanna Miss A Thing
I could stay awake just to hear you breathing
Aku bisa terus terjaga demi untuk mendengar desah nafasmu
Watch you smile while you are sleeping
Melihatmu tersenyum dalam tidurmu
Far away and dreaming
Begitu jauh dan bermimpi
I could spend my life in this sweet surrender
Aku bisa menghabiskan seluruh hidupku dalam kepasrahan yang indah ini
I could stay lost in this moment forever
Aku bisa terus kalah dalam saat seperti ini selamanya
Well, every moment spent with you
Ya, tiap saat yang kuhabiskan bersamamu
Is a moment I treasure
Adalah saat yang sangat berharga

Reff

I don't wanna close my eyes
Tak ingin kupejamkan mataku
I don't wanna fall asleep
Tak ingin kuterlelap
'Cause I'd miss you, babe
Karna aku kan merindukanmu, sayang
And I don't wanna miss a thing
Dan tak mau kulewatkan apapun
'Cause even when I dream of you
Karna meski saat ku bermimpi tentangmu
The sweetest dream will never do
Mimpi terindahkanpun takkan bisa mengganti
I'd still miss you, babe
Aku kan tetap merindukanmu, sayang
And I don't wanna miss a thing
Dan tak mau kulewatkan apapun

“Demikian sebuah lagu dari kami semoga bisa membuat yang ada disini terhibur. Jangan remehkan sepasang matamu, karena itu bisa jadi pengukur kuat dan lemahmu. Terlalu lama menahan rindu, seringkali membuat basah daerah situ. Sekian dari kami, semoga malam anda semua menyenangkan” lalu salah seorang pengamen itu mulai berputar sambil menengadahkan topinya, sedangkan pengamen yang satunya menyantikan kembali lagu Aerosmith itu sambil menunggu temannya yang sedang berkeliling.
Pertunjukan yang menarik bagiku dan mampu mengalihkan kekalutan pikiranku sejenak. Tak lama pesananku datang, aku lantas melahapnya dengan sedikit perasaan lega karena moodku yang sedang sedikit lebih baik saat ini.

Aku sudah kembali berbaring di atas kasurku lagi saat ini, kini aku sedang menatap langit-langit kamarku menatap jauh ke dalam pikiranku dan merasuk jauh ke dalam kenangan yang terus berputar di kepalaku. Kugelengkan kepalaku lalu kupejamkan mataku berharap agar bayangan itu lekas pergi dari kepalaku, namun bukan menghilang justru bayangan itu makin kuat datang menghampiri.

Aku bangkit duduk di atas kasur, lalu kuambil hapeku dan belum ada kabar sama sekali dari sasah. Kupasang headset lantas mulai kudengarkan musik yang ada di playlist daftar lagu yang kumiliki dan kuputar secara acak. Sialnya, lagu yang dimainkan justru lagu yang menjadi favorit kita berdua, lagunya Adera-Lebih indah.

Kuganti lagu itu, lantas kubuat playlist dengan pilihan lagu dengan musik yang agak keras, yang liriknya jauh dari nuansa percintaan. Kurebahkan lagi tubuhku, lalu kupejamkan mataku dan mulutku mulai bernyanyi mengikuti lirik lagu yang sedang berputar hingga perlahan kantuk mulai mengambil alih kuasa tubuhku.

Bersambung…