Biar Tangan Yang Bercerita

Tuesday, January 2, 2018

Persetan Aku !!!




Aku sedang jatuh cinta dengan banyak permainan kata, dengan manusia yang ahli mengolah bahasa, berkonspirasi dengan alam semesta, sehingga membuat dunia seakan hanya ditebar canda dan tawa bahagia.


Karena nyatanya aku terlalu berat dalam memahami hidup ini, terlalu ribut dengan perkara-perkara besar, terlalu sibuk mengurusi penyakit orang lain hingga lupa dengan penyakitku sendiri, terlalu angkuh dengan kebenaran yang kuyakini sendiri hingga lupa kebenaran sejati hanya milik Tuhan.

Sudjiwotedjo pernah berkata, “Benar dan salah tentu ada. Tegakkanlah segitiga. Pada alasnya ada dua sudut, sudut benar dan sudut salah. Mari tarik lagi alas segitiga itu. Makin ke atas, sudut benar dan sudut salah itu semakin dekat. Dipuncaknya, kedua sudut melenyap. Itulah titik Tuhan.”

Namun setelah aku pikir tak ada salahnya aku sombong, tapi harus aku tunjukkan kesombongan itu kepada diriku sendiri bukan kepada orang lain apalagi kepada Tuhan. Akan aku tunjukkan kesombongan itu kepada ego uyang menggelegak di dalam diriku dan kepada masalah yang berdiri sama sombongnya di hadapanku. Dengan sikap sombong yang sama besarnya dan dengan tangan teracung, aku katakan kepada masalah yang masih berdiri kokoh di hadapanku untuk jangan sekalipun pernah berpikir bahwa dia akan menang dariku, karena aku selalu bersama Tuhanku yang lebih besar darinya dan lebih besar dari apapun itu.

Aku juga terkadang terlalu khawatir dengan hidupku sendiri seolah yang aku jalani tak ada campur tangan dari Tuhan, seakan Dia tidak punya andil dalam menunjukkan sifat Rahman dan Rahim-Nya. Hingga aku seakan tersentak saat mendengar Mbah Tedjo berkata seperti ini, “ Walaupun setiap manusia punya kekhawatiran sebetulnya. Menghina Tuhan itu nggak harus nginjak-nginjak Al-Qur’an, ngga harus nginjak-nginjak Injil, ngga harus main-mainin nama nabi-Nya. Tapi besok kita khawatir ngga bisa makan, besok kita khawatir ngga punya jodoh, besok kita khawatir skripsi ngga selesai itu sudah menghina Tuhan. Bahwa semuanya kan sudah diatur. Berapa banyak orang yang tidak meludahi masjid, tidak meludahi gereja tapi khawatir akan hidupnya.”

Aku bahkan pernah beranggapan bahwa Indonesiaku ini sedang kacau balau, rakyatnya ditimpa penderitaan, banyak pemerintahnya yang berkelakuan seperti hewan dan menganggap alam marah melihat keadaan. Aku merasa bahwa Indonesiaku ini sedang berkabut, sejauh mataku memandang hanya asap dan awan gelap seoalh tidak ada langit terang apalagi pelangi di tiap sudutnya. Tapi setelah aku sadari ternyata kesalahannya ada di diriku, ternyata aku lupa mengelap kacamataku yang berembun sehingga membuat pandanganku menjadi kabur.

Seketika aku teringat Cak Nun pernah berkata seperti ini, “ Indonesia akan mengasyikkan, membahagiakan, menyejukkan, menyedihkan atau bahkan menjijikan tergantung pada evolusi setiap masing-masing diri. Manusia telah dianugerahi akal, hati dan nafsu. Maka layaknya kita mampu menyeimbangkannya. Penderitaan itu datang dari luar diri manusia. Dengan kesabaran, penderitaan-penderitaan itu dapat diubah jadi kenikmatan. Pemenang dalam pertarungan sejarah adalah ksatria yang berpijak di masa kini, yang di tangan kirinya tergenggam masa lampau dan di tangan kanannya dia usap-usap masa depan.”

Aku bahkan menjadi malas dalam menghadapi perkara kehidupan akibat stigma yang orang lain kerap salah artikan dari apa yang telah aku tanggapi dalam menilai proses di kehidupan. Namun lagi-lagi aku teringat akan perkataan si Mbah Tedjo, “ Lama-lama orang males romantis karena entar disebut galau. Males peduli takut disebut kepo. Males mendetail takut dibilang rempong. Males mengubah-ubah point of view dalam debat takut dibilang labil. Juga, lama-lama generasi mendatang takut berpendapat takut dikira curhat.

Maka melalui tulisan ini aku ingin mengajak diriku sendiri untuk mencintai hidupku ini dan Indonesiaku ini dengan sebenar-benarnya cinta, yaitu bukan cinta yang berlandaskan alasan dan juga bukan cinta yang aku anggap sebagai bentuk pengorbanan. Tapi dengan cinta yang sejatinya, yang dimana aku lakukan itu karena memang aku senang dan cinta dengan itu. Sekali lagi biar aku kutip pernyataan Mbah Sudjiwotedjo, “ Kalau aku tanya suatu hari kenapa kamu mencintai kekasihmu dan kamu bisa menjawab, maka itu bukan cinta. Itu kalkulasi. Cinta ngga ada karena-karena. Cinta tidak butuh pengorbanan, karena jika kamu sudah merasa berkorban maka sudah luntur cintamu.”

Sebagai penutup dari tulisan ini, aku kutip sepenggal kalimat nasihat dari Prof. Quraish Shihab kepada anaknya Najwa Shihab, “ Sebenarnya yang diperhitungkan bukan jumlah teman yang ada di sekelilingmu akan tetapi banyaknya cinta dan manfaat yang ada di sekitarmu, sekalipun engkau jauh dari mereka.”

Akhiru da’wahum, anilhamdulillahi robbilalamiin. Billahi fi sabililhaq fastabiqul khairat.

Wassalam.